Kejuaraan sepak bola tingkat ASEAN yang baru baru ini telah diselenggarakan menjadi semangat baru bagi sebagian masyarakat Indonesia yang mendukung penuh perjuangan timnas untuk meraih gelar juara pada ajang tersebut. semangat ini mulai membakar jiwa nasionalisme para penggila bola Indonesia setelah timnas membobol gawang lawan dalam beberapa pertandingan dan terus maju ke babak final. Hal ini merupakan suatu kebanggaan yang besar bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. semua mendukung prestasi yang membanggakan ini.
Namun sesampainya di babak final, ketika Indonesia dipertemukan dengan negara tetangga, malaysia, sayang sekali Indonesia gagal membobol gawang lebih banyak dari Malaysia. Tapi kekalahan ini menimblkan banyak komentar dari berbagai pihak.
Kalau kita deskripsikan penyebab - penyebab kekalahan Tim Nasional kita adalah
kesatu terlalu dipolitisasinya para pemain Tim Nasional demi menguntungkan pihak-pihak tertentu tanpa menghiraukan urusan teknis pertandingan. Misalnya para pemain dan offisial diajak jamuan makan di rumah Ketum Partai Golkar Abu Rizal Bakrie, padahal Tim Nasional masih membutuhkan waktu untuk konsentrasi dan latihan menghadapai partai final. Mestinya jamuan seperti hal ini dilakukan saat partai final telah selesai. Walau jamuan ini dimaksudkan untuk tanda ucapan terima kasih Tim Nasional atas jasa-jasa Sang Pengundang, namun kelihatannya sangat kental dengan unsur politisnya. Hal ini bukan hanya terkait bahwa Sang Pengundang yang Ketum Partai Golkar namun juga memperlihatkan Sang Ketua PSSI Nurdin Halid lagi mencari perlindungan politis atas terancamnya kursi Ketua PSSI akibat tuntutan masyarakat.
Politisasi pemain tim nasional ini juga kentara sekali saat para official dan pemain tim nasional menghadiri acara istighosah yang diadakan salah satu pesantren ternama di Jakarta. Mestinya kalau ingin mendo’akan agar tim nasional unggul dalam setiap pertandingan, tidak usahlah mengganggu dan mengusik jadwal latihan dan istirahat para pemain. Hal ini kelihatannya menunjukakn bahwa PSSI sedang menebar pesonakan Tim Nasional demi tujuan-tujuan politis tertentu.
Kedua, para pemain Tim Nasional kita juga waktunya banyak tersita oleh hal-hal yang berbau promosi dan selebriti, seperti wawancara dengan para wartawan media cetak maupun elektronik yang kelihatannya tidak mengindahkan lagi jadawal latihan atau jadwal mereka istirahat. dan bahkan saat penerbangan tim dari Jakarta ke Kuala Lumpur para awak media salah satu TV nasioanl menguntit dan mewawancarai para pemaian di atas pesawat. Sehingga jam istirahat pemaqin sangat berkurang.
Ketiga, kurang mengertinya Kementrian Pemuda dan Olah Raga akan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan untuk mendukung prestasi olah raga kita. Buktinya di tengah sibuk dan ketatnya Tim Nasional kita memeprsiapkan pertandingan final melawan Malaysia, konon Sang Mentri Pemuda dan Olah Raga justru mengundang Tim Nasional untuk urusan tebar pesona yakni makan malam bersama dan pesta-pesta. Mestinya sang Menteri sadar bahwa hal seperti itu jangan dilakukan terlebih dahulu disaat konsentrasi tim lagi sangat dibutuhkan. Sepertinya Sang Menteri sudah “kebelet” untuk memanfaatkan kesempatan emas ini sebagai arena politik tebar pesona.
Keempat, kurang harmonisnya hubungan pelatih tim nasional kita dengan pengurus PSSI. Hal ini ditandai dengan kemarahan Sang pelatih saat anak buahnya disibukkan oleh pengurus PSSI perihal acara tebar pesona dan juga wawancara-wawancara dan iklan oleh para pemilik media.
Kelima, masih groginya Tim Nasional main di kandang lawan. Hal ini karena mereka baru kali ini menjalani pertandingan away dan pertandingan yang lalu-lalu semuanya dijalaninya di Gelora Bung Karno Jakarta. Jadi sangat disayangkan kenapa mereka tidak diberikan pengalaman dalam pertandingan persahabatan yang bertanding di luar kandang, agar mereka terbiasa tidak didukung oleh gegap gempitanya superternya.
Keenam, tentunya gangguan para supporter tuan rumah Malaysia yang meneror pemain Tim Nasional kita dengan menggunakan sinar laser tadi malam juga sangat mempengaruhi konsentrasi pemain.
Namun terlepas dengan penyebab-penyebab kekalahan di atas. Tim Nasional harus cepat menyadarai bahwa tugas mereka belum selesai dan masih ada kesempatan walau cukup berat. Yakni mau tidak mau harus mengalahkan Malaysia pada pertandingan leg kedua nanti di Gelora Bung Karno dengan skor minimal 4 - 0 atau minimal selisih empat gol. Untuk itu konsentrasi Tim Nasional janganlah disibukkan dengan urusan-urusan lain selain urusan teknis pertandingan dan latihan.
Adapun kalau kan menyelenggarakan acara-acara selebrasi atau pesta-pesta maupun wawancara dengan pemain hendaknya dilakukan setelah pertandingan leg kedua selesai.
hal ini membuat para supporter berasumsi bahwa ketua PSSI lah yang berpengaruh besar dalam kekalahan ini. sehingga supporter lebih memuja timnas dan tidak berbangga pada PSSI.
